Artikel

Waktu dan Tempat yang Ditentukan untuk Menunaikan Haji dan Umroh

03 May 2024 | Administrator

Haji dan umroh adalah ibadah yang memiliki tata cara dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah  dan Rasul-Nya. Salah satu aspek penting dalam menunaikan haji dan umroh adalah menentukan waktu dan tempat yang tepat untuk memulai ibadah tersebut. Berdasarkan sumber yang dipercayai, kita dapat memahami secara detail tentang miqat, yang merupakan waktu dan tempat yang ditetapkan untuk memulai ibadah haji dan umroh.

Miqat Zamani (Waktu)


Miqat zamani, atau waktu yang ditentukan, adalah periode di mana seseorang diwajibkan untuk memulai ibadah haji atau umroh. Allah  menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa bulan sabit adalah tanda-tanda waktu bagi manusia untuk menunaikan haji. Bulan-bulan yang dimaklumi untuk menunaikan ibadah haji adalah Syawwal, Dzul Qa'dah, dan sepuluh hari pertama dari bulan Dzul Hijjah.

Menurut penuturan Ibnu 'Abbas dan Ibnu 'Umar, bulan-bulan haji adalah Syawwal, Dzul Qa'dah, dan sepuluh hari pertama dari bulan Dzul Hijjah. Sunnah yang dianjurkan adalah hanya berihram untuk haji selama bulan-bulan haji.

Miqat Makani (Tempat)


Miqat makani, atau tempat yang ditetapkan, adalah lokasi fisik di mana seseorang harus berihram untuk menunaikan ibadah haji atau umroh. Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menetapkan beberapa miqat untuk berbagai wilayah, termasuk Dzul Hulaifah untuk penduduk Madinah, Juhfah untuk penduduk Syam, Qarnul Manazil untuk penduduk Najd, dan Yalamlam untuk penduduk Yaman.

Seorang muslim yang hendak menunaikan haji atau umroh harus berihram sebelum melewati miqat yang ditetapkan. Memulai ihram sebelum mencapai miqat adalah tidak disarankan, dan jika seseorang melakukannya, ia harus kembali ke miqat dan berihram dari sana.

Memulai Ihram Di Miqat


Ketika seorang muslim tiba di miqat, ia harus berihram untuk memulai ibadah haji atau umroh. Bagi mereka yang membawa hewan sembelihan, mereka harus berihram dengan niat haji dan umroh. Bagi yang tidak membawa hewan sembelihan, mereka harus berihram dengan niat umroh saja. Jika seseorang sudah berihram untuk haji saja, disarankan untuk membatalkan niat haji dan mengubahnya menjadi umroh.

Bolehnya Seorang Yang Berihram Mensyaratkan Tahallul Jika Ia Sakit Dan Lain-Lain

Allah  memperbolehkan seseorang yang berihram untuk menunda tahallul jika ia sakit atau mengalami kendala lainnya. Dalam hadits, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan contoh kepada seorang wanita yang sakit dan tidak dapat menunaikan ibadah haji, yang diperbolehkan untuk menunda tahallulnya hingga kondisinya membaik.

Dalam hal ini, seseorang boleh mensyaratkan tahallul jika ia menghadapi kendala seperti sakit atau halangan lainnya. Jika kemudian ia tertahan atau tidak dapat melanjutkan ibadahnya, ia tidak akan terbebani dengan kewajiban dam.

Dengan memahami miqat, baik dari segi waktu maupun tempat, serta aturan-aturan yang terkait dengan berihram dan menunda tahallul, kita dapat menjalankan ibadah haji dan umroh sesuai dengan tata cara yang telah ditetapkan oleh agama Islam. Dengan itikad yang tulus dan kesungguhan dalam menjalankan ibadah, kita dapat meraih keberkahan dan ampunan Allah .


Artikel lainnya

Mabit di Muzdalifah dengan skema Murur

Mabit di Muzdalifah dengan cara murur adalah mabit (bermalam) yang dilakukan dengan cara melintas di Muzdalifah setel...

Lanjut baca
Waktu dan Tempat yang Ditentukan untuk Menunaikan Haji dan Umroh

Haji dan umroh adalah ibadah yang memiliki tata cara dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah  dan Rasul-N...

Lanjut baca
Al Rawda Al Sharifa — Raudhah

Raudhah, yang dikenal sebagai sepotong surga di bumi, merupakan salah satu tempat paling mustajab untuk memanjatkan d...

Lanjut baca